Gerakan Nasional pengentasan buta aksara al-Qur’an, merupakan upaya penting dan strategis dalam mewujudkan masyarakat Muslim yang mampu membaca dan mencintai al-Qur’an.

Gerakan Nasional adalah upaya bersama yang terorganisir dan terstruktur untuk merubah keadaan. Dilakukan secara serentak, bertahap dan berkelanjutan guna memberikan kemampuan dasar dalam beragama yaitu kemampuan membaca al-Qur’an, sehingga yang beriman bisa mempelajari dan mengamalkan ajaran agama Islam.

Pembelajaran membaca atau menghafal al-Qur’an kepada peserta yang aktif bisa mengikuti setiap hari atau malam hari di Masjid, Musolla, Pesanten, Madrasah, atau di TKA/TQA adalah hal yang biasa dan mudah. Metode apapun yang digunakan dipastikan akan berhasil.

Fakta 65% ( + 154 juta ) muslim di Indonesia yang masih belum mampu membaca al-Qur’an, saat ini mereka berada di lingkungan kehidupan yang sudah sibuk dengan tugas dan aktivitas sesuai propesinya, sehingga sudah tidak memiliki waktu luas untuk belajar setiap hari.

Oleh karena itu, LPQQ Indonesia memberikan solusi dengan Gerakan Pembelajaran Membaca Al-Qur’an Klasikal yang hanya membutuhkan waktu selama 2 sampai 3 hari (Hari libur) saja untuk bisa membaca al-Qur’an, yaitu dengan Metode Ishlah sebuah metode aktual dan inovatif untuk belajar dan mengajarkan membaca al-Qur’an secara Klasikal bagi kalangan remaja, dewasa dan lansia, serta bagi pelajar dan mahasiswa.

Gerakan Nasional LPQQ memfokuskan kepada upaya membangun komunikasi, koordinasi, kolaborasi dan kerjasama dengan semua elemen dan komponen masyarakat muslim untuk membentuk Kelompok-kelompok Belajar Membaca Al-Qur’an (KBMA) atau Rumah Qur’an dengan jumlah peserta sebanyak 40 – 50 orang disetiap KBMA yang dibentuk disetiap Desa/ Kelurahan dan di kampus pelajar kelas 6, Kelas 9 dan kelas 12 serta di kampus-kampus mahasiswa. Pembelajaran dilaksanakan pada hari libur sehingga tidak mengganggu aktivitasGerakan Nasional ini apabila dilakukan sekali dalam setahun, maka akan dapat mengentaskan sebanyak 16,758,800 muslim Indonesia menjadi mampu membaca alQur’an. Dengan jumlah Mu’alim Al-Qur’an sebanyak 1.675.880 orang. Sehingga dalam kurun waktu 10 tahun, masyarakat muslim di Indonesia akan bebas dari buta aksara al-Qur’an.

Peluang untuk dapat melakukan pembelajaran membaca al-Qur’an secara Klasikal pada KBMA sebanyak 2 (Dua) gelombang dalam setahun sangatlah besar, karena pelaksanaan pembelajaran dengan sistim klasikal ini hanya membutuhkan waktu selama 2 – 3 hari saja.

Lembaga Pembinaan Qiroatil Qur’an Indonesia (LPQQ INDONESIA) dengan segala aspek programnya mempunyai tugas, fungsi dan peranan penting dalam membangun masyarakat yang bebas buta aksara al-Qur’an guna memberikan kontribusi yang nyata dalam mengentaskan buta aksara al-Qur’an di tanah air. Kontribusi yang dimaksud adalah :

  1. Komitmen sebagai perekat umat untuk semua kalangan dan golongan dalam penanganan dan pengentasan buta aksara al-Qur’an, dengan melakukan koordinasi, kolaborasi serta kerjasama dengan semua elemen masyarakat muslim.
  2. Komitmen melakukan kaderisasi Instruktur secara Nasional, Fasilitator dan Mu’alim alQur’an yang merupakan ujung tombak perjuangan LPQQ Indonesia dalam melakukan Gerakan Nasional Pengentasan Buta Aksara Al-Qur’an.
  3. Komitmen pada pengembangan metode pembelajaran membaca al-Qur’an yang efektif dan tepat guna, yaitu Metode ISHLAH yang telah teruji dengan sistim pembelajaran secara klasikal pada peserta KBMA ( Kelompok Belajar Membaca Al-Qur’an )
  4. Komitmen menjalin kerjasama dengan intansi pemerintah, Lembaga Pendidikan Islam, lembaga-lembaga islam struktural, Rektorat Universitas/Perguruan Tinggi, Organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan, Lembaga Swadaya Masyarakat dan yang lainnya guna membentuk kelompok-kelompok belajar membaca al-Qur’an (KBMA) dan Rumah Qur’an di setiap Desa dan Kelurahan, serta di kampus-kampus pelajar dan mahasiswa.
  5. Komitmen membangun sistem ekonomi melalui kerjasama usaha dan donasi sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan Mu’alim Al-Qur’an di Indonesia Misi dan tujuan hadirnya LPQQ Indonesia hanya satu, yaitu melakukan Gerakan Nasional pengentasan buta aksara al-Qur’an secara serentak, bertahap dan berkelanjutan, bagi kalangan remaja, dewasa dan lansia serta bagi pelajar dan mahasiswa.

Prinsip perjuangan LPQQ Indonesia berdasarkan kepada ketaqwaan, etika, dan moral dengan kaidah Da’wah Bil-Hikmah Wal-Mau’idzoh Hasanah dengan mengkhususkan di bidang pembelajaran membaca al-Qur’an secara klasikal (Kelompok).

LPQQ Indonesia adalah wadah terhimpunnya para aktivis dari berbagai disiplin ilmu dan kepakaran yang terorganisir dan terstruktur dibawah bimbingan para tokoh ulama, tokoh Pondok Pesantren, Tokoh Akademisi dan Tokoh Masyarakat Muslim yang memiliki komitmen dan kepedulian terhadap pengentasan buta aksara al-Qur’an di Indonesia.

Motto perjuangan LPQQ Indonesia adalah :

  1. Yang beriman, harus bisa membaca al-Qur’an
  2. Dengan gerakan berjama’ah, akan lebih mudah dan bertambah barokah

Manajemen Gerakan Nasional LPQQ INDONEASIA :

  1. Melakukan Deklarasi Nasional sekaligus training of trainer (TOT) Mu’allim Al-Qur’an Tingkat Nasional, yang di ikuti oleh pengurus LPQQ dari 31 Provinsi.
  2. Melakukan Deklarasi sekaligus training of trainer (TOT) Mu’allim Al-Qur’an di 31 Provinsi di Indonesia, yang di ikuti oleh utusan dari LPQQ Kabupaten dan Kota.
  3. Melakukan Deklarasi sekaligus training of trainer (TOT) Mu’allim Al-Qur’an Tingkat Kabupaten / Kota, yang di ikuti oleh utusan dari instansi terkait, akademisi dan utusan dari LPQQ Kecamatan
  4. Melakukan Delarasi sekaligus training of trainer (TOT) Mu’allim Al-Qur’an Tingkat Kecamatan, yang di ikuti oleh Dewan Mu’allim utusan dari setiap Desa/Kelurahan
  5. Mengajak para Guru Madrasah, Guru ngaji dan Guru Agama Islam untuk ikut serta dan bergabung dalam pelaksanaan pembelajaran membaca al-Qur’an bagi peserta KBMA.
  6. Membentuk KBMA atau Rumah Qur’an di setiap Desa/Kelurahan serta di Kampus pelajar dan mahasiswa :

a) Setiap KBMA terdiri dari 40 – 50 orang peserta, terdiri dari kalangan remaja, dewasa dan lansia, serta pelajar dan mahasiswa yang belum bisa membaca al-Qur’an.

b) Setiap KBMA dibimbing oleh 5 orang Dewan Mu’allim Al-Qur’an yang telah mengikuti training/pelatihan (TOT) yang diselenggarakan oleh LPQQ, guna menyamakan persepsi, visi dan misi serta tujuan dari Gerakan Nasional pengentasan buta aksara al-Qur’an di tanah air.

c) Pelaksanaan pembelajaran membaca al-Qur’an Klasikal Metode Ishlah yang ditulis khusus untuk kepentingan Gerakan Nasional Pengentasan Buta Aksara Al-Qur’an selama 2 ( Dua ) hari, yaitu pada hari libur.

d) Tidak melakukan pungutan biaya training / pelatihan kepada para mu’allim Qur’an dan kepada peserta pembelajaran membaca al-Qur’an disetiap KBMA.

Fakta Kondisi Masyarakat Muslim :

  1. Bahwa 65% ( + 154 juta ) muslim di tanah air yang masih belum mampu membaca alQur’an adalah disebabkan karena mereka tidak mengaji di masjid, musholla, di tempat guru ngaji atau di Madrasah dan Pondok Pesantren atau di Lembaga Pendidikan Islam.
  2. Kondisi mereka saat ini sudah tidak bisa mengikuti kegiatan belajar membaca al-Qur‘an setiap hari karena kesibukan sebagai pelajar, mahasiswa, pegawai, karyawan, buruh dan kesibukan lainnya.

Sistim Pembelajaran Membaca Al-Qur’an Klasikal :

  1. Dengan sistem pembelajaran klasikal di KBMA dapat menciptakan musyarokah antar peserta, dapat menutupi rasa minder, malu, gengsi dan takut salah dalam belajar, serta meningkatkan keberanian bersuara keras dan jelas didalam belajar membaca al-Qur’an, karena membaca adalah keterampilan yang membutuhkan latihan dengan suara keras dan jelas.
  2. Pembelajaran sistim klasikal pada KBMA dengan jumlah peserta 40 – 50 orang, dapat mempercepat penanganan dan pengentasan buta aksara al-Qur’an baik secara kualitas maupun kuantitas.
  3. Pembelajaran membaca al-Qur’an klasikal dengan Metode Ishlah hanya membutuhkan waktu 2 – 3 hari ( Hari libur ) untuk bisa membaca al-Qur’an dengan baik dan benar.
  4. Pelaksanaan pembelajaran membaca al-Qur’an klasikal bertempat di masjid atau gedung lembaga-lembaga pendidikan.
  5. Ciri khusus Gerakan Nasional LPQQ Indonesia adalah :
  • Peserta pelatihan (TOT) Mu’alim al-Qur’an tidak boleh dipungut biaya.
  • Peserta pembelajaran membaca al-Qur’an di KBMA tidak boleh dipungut biaya, karena adanya pungutan biaya akan menjadi alasan penolakan terhadap ajakan untuk belajar membaca al-Qur’an.

Target Pencapaian :

  1. Peningkatan Kualitas, Kuantitas dan kesejahteraan bagi para Mu’allim Al-Qur’an serta anggota LPQQ Indonesia yang transparan dan akuntable melalui plat form ABRAR ( http://lpqqindonesia.abrar.cx )
  2. Peserta KBMA mampu membaca Surat Al-Mulk dengan baik dan benar sesuai target pencapaian Metode Ishlah LPQQ Indonesia.
  3. Syiar Islam melalui pelaksanaan Wisuda Santri LPQQ pada setiap Hari Santri Nasional, tanggal 22 Oktober sekaligus menjadikan Hari Santri Nasional sebagai Hari Besar LPQQ Indonesia, yang akan menjadi barometer dan evaluasi tahunan Gerakan Nasional Pengentasan Buta Aksara Al-Qur’an di tanah air.
  4. Meningkatkan kepedulian terhadap Gerakan Nasional pengentasan buta aksara alQur’an yang fokus dan serius dengan mengajak semua lapisan dan golongan.

Dengan keterbatasan kemampuan LPQQ Indonesia sebagai organisasi baru, tetap semangat dan terus melakukan gerakan dan aktivitas guna mencapai tujuan perjuangan. Muslim yang kuat, yang berilmu, yang diberikan jabatan dan kekayaan, yang di tokohkan dan di tuakan, memiliki kewajiban untuk membantu yang lemah, terutama yang lemah agamanya karena belum mampu membaca al-Qur’an. Dan semuanya itu akan dimintai pertanggung jawabannya kelak dihadapan Allah SWT, yaumal hisab.

Gerakan Nasional LPQQ Indonesia ini akan berjalan dengan baik apabila mendapatkan dukungan dan keterlibatan dari semua kalangan dan golongan, karena dengan Gerakan Berjama’ah akan lebih mudah dan bertambah barokah.

Sesungguhnya barakah itu bersama jama’ah

Masjid Istiqlal, Jakarta

Jum’at 18 Agustus 2023.

Penulis,

Mahbub Sholeh Zarkasyi

Ketua Umum LPQQ Indonesia